Amarah
Menjadi Sumber dari Segenap Perbuatan Maksiat
Suatu ketika saya membaca
sebuah pertanyaan yang ditujukan dalam sebuah rubrik konsultasi di media
online. Si pembaca menanyakan mengapa seseorang yang berjilbab masih juga
bersifat emosional. Saya tersenyum simpul membaca pertanyaan ini. Dalam hati
saya berujar, “Apakah selembar kain penutup kepala menjadi jaminan seseorang
terbebas dari amarah?”
Hemm.. Rasanya tidak ya. Sifat
ini demikian mutlak dimiliki semua orang. Allah menciptakan sifat ini untuk
melindungi manusia dari kerusakan dan menolak kebinasaan. Dalam Laa Taghdab, Aidh al Qarni mengatakan,
bahwa sifat amarah diciptakan Allah dari api untuk menghadapi hal-hal yang akan
menghancurkannya.
Amarah
Terkelola
Hanya saja, manusia sering
salah kaprah menggunakan perangkat amarah. Ibarat lonceng, amarah sejatinya
menjadi pengingat manusia atas kebutuhannya terhadap perlindungan. Sayangnya,
sering manusia abai, sehingga sikap emosional menjadi timbul.
Amarah yang tidak terkelola
dengan baik biasanya akan mengantarkan manusia pada konflik. Juga melahirkan
penilaian negatif dan persoalan-persoalan kesehatan. Amarah juga kerap memicu
pengambilan keputusan yang tidak tepat dan bersifat menghancurkan.
Sejarah telah memberikan
testimoni mengenai amarah yang tidak terkelola . Lenin dan Fir’aun diantara
pemimpin besar yang amarahnya telah mencelakai dirinya. Dunia memang
mengingatnya, tetapi dalam bingkai kisah negatif. Berbeda dengan Umar Bin
Khattab, amarahnya yang terkelola, menjadikannya sang penakhluk sebagian besar
Jazirah Arab, pun termasuk deretan pemimpin dunia yang disegani.
Level Amarah
Dari kekuatannya, amarah bisa
dibagi ke dalam tiga kategori : Pertama, Abai,
yaitu ketika kekuatan amarah hilang atau melemah. Sikap ini sangat tercela,
karena tidak memiliki semangat patriotik. Imam Syafi’i sampai menyebut orang
yang punya sifat ini seperti keledai.
Kedua, Berlebihan, ketika amarah dominan, hingga lepas dari kendali akal
dan agama. Biasanya dalam kondisi demikian seseorang menjadi kacau, tidak lagi
cermat dan hati-hati dalam berfikir dan bertindak.
Ketiga, Seimbang, adalah kondisi dimana amarah dalam posisi tengah-tengah,
tidak berlebihan ataupun abai. Ia bisa menaikkan amarahnya, ketika redup
semangat patriotik dalam dirinya, pun bisa menekan ketika amarah mendekati
level berlebihan.
Tetap
Dibutuhkan
Posisi seimbang adalah sebuah
moderasi yang harus dicapai jika ingin hidup bahagia. Tiak mungkin
menghilangkan amarah karena sejatinya amarah dibutuhkan manusia. Amarah
dimaksudkan untuk membakar semangat manusia agara bersegera dan pantang
menyerah dalam mengerjakan banyak kebaikkan. Amarah juga ditujukan untuk
melakukan nahyi munkar (mencegah
kemungkaran). Jadi, tidak mungkin menghilangkan amarah. Namun, kita bisa mengelolanya
agar selanjutnya bisa diarahkan untuk tujuan kebaikkan.
Rasulullah berssabda,
“Kebaikkan terwujud dalam 3 hal. Siapa yang memilikinya, imannya
sempurna : 1. Orang yang apabila rida, sikap ridanya tersebut tidak
mengantarnya kepada yang batil; 2. Orang yang apabila marah, marahnya tidak
mengeluarkannya dari kebenaran; 3. Orang yang apabila kuasa ia tetap memberikan
maaf.” HR. Abu Dawud.
Tepat
Sasaran
Suatu ketika Aristoteles
berkata, “Siapapun bisa marah. Ini hal yang mudah. Namun marah kepada orang
yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat dan tujuannya
benar, lewat cara yang cocok, bukan persoalan mudah.”
Bisa dibilang, mengelola amarah
adalah tantangan paling besar yang dihadapi manusia. Namun, bagi siapapun yang
mampu mengelolanya, surga menjadi hadiah. “Jangan marah, bagimu surga.” (HR.
Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitan Shahih
At-Targhib no. 2749).
Kuasai
Amarah
Orang-orang bijak senantiasa
berhasil mengelola amarahnya. Suatu ketika seseorang berkata kepada Umar ibn
Aziz, bahwa ia bersaksi Umar seorang yang munafik. Mendengar hal itu, Umar
berkata dengan tanpa sedikitpun amarah, “Kesaksianmu ditolak.”
Lain waktu, Umar kedatangan
seorang ibu bersama anaknya yang melukai anak Umar Ibn Aiz hingga
berdarah-darah. Sebelum ditegur, sang ibu mengatakan, bahwa anaknya adalah
seorang yatim. Umar berkata pada sang ibu, “Tenanglah!!’ Lalu menyuruh sang ibu
untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah, agar mendapat bantuan pengajaran akhlak
karimah.
Tidak Mudah
Mengelola amarah layaknya orang
bijak bukan perkara yang mudah. Namun, mengetahui cara pengobatannya, akan
meringankan upaya tersebut.
Pertama, mengetahui keutamaan menahan marah, ,e,aafkan dan bersikap
sabar.
Kedua, menyadari hukuman Allah. Suatu ketika Rasulullah mengutus seorang
pembantu untuk keperluan. Namun, jalannya sangat lambat. Beliau pun berkata,
“Kalau bukan karena takut pada qishas (baca : balasan pada hari akhir), tentu
aku sudah menghukummu.”
Ketiga, mengetahui akibat dari marah, seperti : permusuhan, balas
dendsam, upaya menjatuhkan kehormatan, dsb.
Keempat, membayangkan buruknya wajah orang yang marah, dan
merefleksikannya pada diri.
Kelima, merenungkan sebab yang mengantar perilaku balas dendam dan
tidak bisa menahan amarah.
Keenam, hal ini menjadi ilmu yang harus menjadi catatan dalam
muhasabah diri setiap waktu. Alhasil hati dan pikiran mampu membangun perisai
terhadap amarah. Namun demikian, tidak bisa dielakkan, saat kondisi jiwa sedang
tidak seimbang, perisai amarah tidak melakukan perannya dengan baik, sehingga
amarah menyerang tanpa ampun.
Sulit
Membalas
Dalam kondisi demikian
sebaikknya kita membaca ta’awudz. Doa ini bisa menjadi penangkal dari godaan
setan untuk marah. Lalu, memilih untuk diam agar dapat menjaga lisan. Orang
yang marah, biasanya tidak mampu menyensor kata-katanya, senantiasa menyakiti
bahkan merusak relasi.
Selanjutnya, mengambil posisi
lebih rendah. Abu Dzar RA melindungi dirinya dari amarah dengan mengubah posisi
lebih rendah. Suatu ketika Abu Dzar mengisi ember. Tiba-tiba datang beberapa
orang yang ingin mengerjai Abu Dzar dengan menjitak dan mencabut beberapa helai
rambutnya. Mengalami kejadian itu, seketika Abu Dzar yang sedang berdiri,
langsung duduka kemudian tidur. Mereka yang melihat terheran-heran. Abu Dzar
pun menjelaskan, orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang
yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur
tidak mungkin akan memukul.
Patenkan perisai dengan berwudlu atau amndi. Sifat
marah yang panas seperti api hanya bisa didinginkan dengan berwudlu atau mandi.
Amarah yang sedang menyala, diibarat Dr. Aidh al-Qarni seperti kalbu yang
sedang mendidih. Ia memanaskan darah yang menyebar ke sejumlah urat nadi. Tidak
ada jalan lain selain menekannya. Semoga kita bisa menjadi orang yang mampu
mengendalikan amarah kita. (Dikutip dari Majalah Paras/Jan/XII/2015)
DOA MENAHAN AMARAH
A’uudzu billaahi
minasy-syaithaanir-rajiim. Allahhummagh firlii dzanbii wadzhib ghaizha
qalbii wa ajirnii minasyaithaanirrajiim.
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang
terkutuk. Wahai Tuahnku, Ampunilah dosaku dan lenyapkanlah kepanasan
hatikuserta lepaskanlah aku dari godaan setan yang terkutuk
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar