Sabtu, 17 Januari 2015

MENAKHLUKKAN SI API



Amarah Menjadi Sumber dari Segenap Perbuatan Maksiat

Suatu ketika saya membaca sebuah pertanyaan yang ditujukan dalam sebuah rubrik konsultasi di media online. Si pembaca menanyakan mengapa seseorang yang berjilbab masih juga bersifat emosional. Saya tersenyum simpul membaca pertanyaan ini. Dalam hati saya berujar, “Apakah selembar kain penutup kepala menjadi jaminan seseorang terbebas dari amarah?”

Hemm.. Rasanya tidak ya. Sifat ini demikian mutlak dimiliki semua orang. Allah menciptakan sifat ini untuk melindungi manusia dari kerusakan dan menolak kebinasaan. Dalam Laa Taghdab, Aidh al Qarni mengatakan, bahwa sifat amarah diciptakan Allah dari api untuk menghadapi hal-hal yang akan menghancurkannya.



Amarah Terkelola

Hanya saja, manusia sering salah kaprah menggunakan perangkat amarah. Ibarat lonceng, amarah sejatinya menjadi pengingat manusia atas kebutuhannya terhadap perlindungan. Sayangnya, sering manusia abai, sehingga sikap emosional menjadi timbul.

Amarah yang tidak terkelola dengan baik biasanya akan mengantarkan manusia pada konflik. Juga melahirkan penilaian negatif dan persoalan-persoalan kesehatan. Amarah juga kerap memicu pengambilan keputusan yang tidak tepat dan bersifat menghancurkan.

Sejarah telah memberikan testimoni mengenai amarah yang tidak terkelola . Lenin dan Fir’aun diantara pemimpin besar yang amarahnya telah mencelakai dirinya. Dunia memang mengingatnya, tetapi dalam bingkai kisah negatif. Berbeda dengan Umar Bin Khattab, amarahnya yang terkelola, menjadikannya sang penakhluk sebagian besar Jazirah Arab, pun termasuk deretan pemimpin dunia yang disegani.



Level Amarah

Dari kekuatannya, amarah bisa dibagi ke dalam tiga kategori : Pertama, Abai, yaitu ketika kekuatan amarah hilang atau melemah. Sikap ini sangat tercela, karena tidak memiliki semangat patriotik. Imam Syafi’i sampai menyebut orang yang punya sifat ini seperti keledai.

Kedua, Berlebihan, ketika amarah dominan, hingga lepas dari kendali akal dan agama. Biasanya dalam kondisi demikian seseorang menjadi kacau, tidak lagi cermat dan hati-hati dalam berfikir dan bertindak.

Ketiga, Seimbang, adalah kondisi dimana amarah dalam posisi tengah-tengah, tidak berlebihan ataupun abai. Ia bisa menaikkan amarahnya, ketika redup semangat patriotik dalam dirinya, pun bisa menekan ketika amarah mendekati level berlebihan.



Tetap Dibutuhkan

Posisi seimbang adalah sebuah moderasi yang harus dicapai jika ingin hidup bahagia. Tiak mungkin menghilangkan amarah karena sejatinya amarah dibutuhkan manusia. Amarah dimaksudkan untuk membakar semangat manusia agara bersegera dan pantang menyerah dalam mengerjakan banyak kebaikkan. Amarah juga ditujukan untuk melakukan nahyi munkar (mencegah kemungkaran). Jadi, tidak mungkin menghilangkan amarah. Namun, kita bisa mengelolanya agar selanjutnya bisa diarahkan untuk tujuan kebaikkan.

Rasulullah berssabda,

“Kebaikkan terwujud dalam 3 hal. Siapa yang memilikinya, imannya sempurna : 1. Orang yang apabila rida, sikap ridanya tersebut tidak mengantarnya kepada yang batil; 2. Orang yang apabila marah, marahnya tidak mengeluarkannya dari kebenaran; 3. Orang yang apabila kuasa ia tetap memberikan maaf.” HR. Abu Dawud.





Tepat Sasaran

Suatu ketika Aristoteles berkata, “Siapapun bisa marah. Ini hal yang mudah. Namun marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat dan tujuannya benar, lewat cara yang cocok, bukan persoalan mudah.”

Bisa dibilang, mengelola amarah adalah tantangan paling besar yang dihadapi manusia. Namun, bagi siapapun yang mampu mengelolanya, surga menjadi hadiah. “Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitan Shahih At-Targhib no. 2749).



Kuasai Amarah

Orang-orang bijak senantiasa berhasil mengelola amarahnya. Suatu ketika seseorang berkata kepada Umar ibn Aziz, bahwa ia bersaksi Umar seorang yang munafik. Mendengar hal itu, Umar berkata dengan tanpa sedikitpun amarah, “Kesaksianmu ditolak.”

Lain waktu, Umar kedatangan seorang ibu bersama anaknya yang melukai anak Umar Ibn Aiz hingga berdarah-darah. Sebelum ditegur, sang ibu mengatakan, bahwa anaknya adalah seorang yatim. Umar berkata pada sang ibu, “Tenanglah!!’ Lalu menyuruh sang ibu untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah, agar mendapat bantuan pengajaran akhlak karimah.



Tidak Mudah

Mengelola amarah layaknya orang bijak bukan perkara yang mudah. Namun, mengetahui cara pengobatannya, akan meringankan upaya tersebut.

Pertama, mengetahui keutamaan menahan marah, ,e,aafkan dan bersikap sabar.

Kedua, menyadari hukuman Allah. Suatu ketika Rasulullah mengutus seorang pembantu untuk keperluan. Namun, jalannya sangat lambat. Beliau pun berkata, “Kalau bukan karena takut pada qishas (baca : balasan pada hari akhir), tentu aku sudah menghukummu.”

Ketiga, mengetahui akibat dari marah, seperti : permusuhan, balas dendsam, upaya menjatuhkan kehormatan, dsb.

Keempat, membayangkan buruknya wajah orang yang marah, dan merefleksikannya pada diri.

Kelima, merenungkan sebab yang mengantar perilaku balas dendam dan tidak bisa menahan amarah.

Keenam, hal ini menjadi ilmu yang harus menjadi catatan dalam muhasabah diri setiap waktu. Alhasil hati dan pikiran mampu membangun perisai terhadap amarah. Namun demikian, tidak bisa dielakkan, saat kondisi jiwa sedang tidak seimbang, perisai amarah tidak melakukan perannya dengan baik, sehingga amarah menyerang tanpa ampun.



Sulit Membalas

Dalam kondisi demikian sebaikknya kita membaca ta’awudz. Doa ini bisa menjadi penangkal dari godaan setan untuk marah. Lalu, memilih untuk diam agar dapat menjaga lisan. Orang yang marah, biasanya tidak mampu menyensor kata-katanya, senantiasa menyakiti bahkan merusak relasi.

Selanjutnya, mengambil posisi lebih rendah. Abu Dzar RA melindungi dirinya dari amarah dengan mengubah posisi lebih rendah. Suatu ketika Abu Dzar mengisi ember. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin mengerjai Abu Dzar dengan menjitak dan mencabut beberapa helai rambutnya. Mengalami kejadian itu, seketika Abu Dzar yang sedang berdiri, langsung duduka kemudian tidur. Mereka yang melihat terheran-heran. Abu Dzar pun menjelaskan, orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur tidak mungkin akan memukul.
Patenkan perisai dengan berwudlu atau amndi. Sifat marah yang panas seperti api hanya bisa didinginkan dengan berwudlu atau mandi. Amarah yang sedang menyala, diibarat Dr. Aidh al-Qarni seperti kalbu yang sedang mendidih. Ia memanaskan darah yang menyebar ke sejumlah urat nadi. Tidak ada jalan lain selain menekannya. Semoga kita bisa menjadi orang yang mampu mengendalikan amarah kita. (Dikutip dari Majalah Paras/Jan/XII/2015)


DOA MENAHAN AMARAH

A’uudzu billaahi minasy-syaithaanir-rajiim. Allahhummagh firlii dzanbii wadzhib ghaizha qalbii wa ajirnii minasyaithaanirrajiim.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Wahai Tuahnku, Ampunilah dosaku dan lenyapkanlah kepanasan hatikuserta lepaskanlah aku dari godaan setan yang terkutuk
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar